Postingan

Menjejak Bumi Bersama Asmara, Menyelam Laut Bersama "Laut Bercerita"

Gambar
"Laut Bercerita" selalu menarik mataku setiap kali berkunjung ke toko buku di tengah kota pada hari Minggu. Sehingga ia menetap dan mengganggu pikiranku berbulan kemudian. Sampai-sampai kusempatkan mengunduh dalam gawaiku melalui iPusnas, namun mataku enggan diajak bekerja sama. Sampai bulan-bulan setelahnya, aku terduduk di Auditorium kampusku bersama ratusan orang lainnya, menyaksikan Leila S. Chudori membagi kisah Laut melalui film pendeknya yang tidak bisa kulupakan hingga sekarang.  Kisah Laut kini berada dalam genggamanku melalui novel "Laut Bercerita" bersampul ilustrasi pedih sepasang kaki tenggelam lengkap dengan rantai pemberat. Laut memulai kisahnya pada perjalanan hidup tahun 1991 di Seyegan, Yogyakarta, bersama kelompok aktivisnya. Demonstrasi, aksi demi aksi, dan diskusi-diskusi panjang demi memperjuangkan negeri yang demokratis mewarnai episode-episode kehidupan Laut. Kisah ini begitu dekat dengan kita, bukan? Meski aku sama sekali tidak pernah masuk ...

Menelusuri Rasa Bersama "Aruna dan Lidahnya"

Gambar
Beberapa hari lalu, aku baru sadar November sudah hendak habis dan sedikit terkejut mendapati 2020 sebagai tahun paling surutku dalam membaca buku. Tentu saja setelah membuka goodreads  dan hanya menemukan Pulang milik Leila S. Chudori bertengger sendirian dalam daftar. Maka dalam perjalanan menemukan the old me , kuperlukan melahap beberapa buku untuk mengantarkan 2020 pada peraduannya.  Judul: Aruna dan Lidahnya (2014) Penulis: Laksmi Pamuntjak Halaman: 429 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Harga: Rp95.000 Aruna dan Lidahnya, kubungkus barang setahun lalu dari Gramedia, yang kemudian berjalan dari teman-ke-teman bahkan sebelum sempat kutamatkan. Maka kuputuskan mulai berkawan dengannya seminggu lalu. Kesan pertamaku justru datang dari penyesalan membeli buku ini dengan versi cover filmnya: hal yang nyaris tidak pernah kulakukan sepanjang hidupku bercumbu dengan buku-buku. Meski tak cukup esensial, hal ini cukup membuatku meletakannya berbulan-bulan tak tersentuh.  "Aruna...

Bagaimana Caraku Bertahan: Sebuah Refleksi Bagian Satu

Hai, berjumpa lagi. Rasanya aku berhutang untuk empat tahun terakhir: menuliskan episode-episode paling krusial dalam kehidupanku memasuki usia seperlima abad. Tapi, baiklah. Mari membuatnya tidak seperti beban atau hutang. Maka kuputuskan membikinnya seperti aktivitas berkacaku setiap pagi: refleksi. Harapanku, semoga tak berlebihan, ada beberapa makna yang bisa kusimpan untuk hidupku ke depan. Dengan ini, kupersembahkan: refleksi. Kutuliskan ini diiringi suara Nadin:  kita beranjak dewasa, jauh terburu seharusnya bagai bintang yang jatuh, jauh terburu waktu mati lebih cepat, mati lebih cepat Tepat sekali. Maka kubawa ia, Farakh 4 tahun lalu, dihadapan kita sekarang juga untuk bercerita.  Tahun pertama: 2016-2017. Tahun pertamaku dimulai dengan kesalahan yang cukup kusesali hingga sekarang: luput memilih tempat tinggal. Terlalu tenggelam dalam euforia berhasil masuk perguruan tinggi kedinasan. Maka kuperlukan terkekeh sebentar ketika di masa depan aku mendengar cerita yang ha...

Self healing: Menjadi Sendirian

Selamat pagi, tidak menyangka bisa menyambangi blog sepagi ini. Persetan dengan ungkapan-ungkapan negatif yang baru saja kuterima lewat sosial media sepagi ini, mari menyembuhkan diri, lagi. Menjadi sendiri. Hal yang paling kutakutkan segera tiba. Saya sudah berada di penghujung masa kuliah. Saya bersyukur bahwa cukup banyak kawan, teman, sahabat yang saya jumpai sepanjang empat tahun kuliah di Jakarta. Tapi coba tebak? Ya, saya masih merasa sendiri. Sejak mengakhiri hubungan dengan mantan pacar empat tahun silam: saya bertemu dan berkawan dengan lebih banyak orang, hal yang tidak bisa saya lakukan selama masa pacaran. Kemudian saya sibuk haha-hihi berkawan sana sini hingga tiba pada tingkat akhir. Semuanya menjadi berbeda. Perkuliahan tidak sepadat dulu. Kegiatan kampus tidak semasif sebelumnya. Semua orang mendadak jauh, menarik diri dari saya (?) dan mungkin lingkungan pergaulan lain. Sahabat-sahabat yang dulunya tidak pernah tidak hang out  dan cerita ngalor-ngidul mengam...

Self-healing: Skripsi dan Keresahan yang Meliputinya

Lama sekali tidak menulis apa-apa di sini. Terlalu lama alpa, bahkan lupa kalau aku masih punya lembaran-lembaran kosong yang senantiasa terbuka untuk kuisi dengan apapun. Jadi, mari kita mulai lagi. Empat bar. Tangga teratas. Saya sudah berada pada masa-masa akhir pendidikan diploma saya di Politeknik Statistika STIS. Dengan sistem kuliah paket, kami diatur seideal mungkin untuk dapat masuk dan lulus bersama-sama. Seperti yang tentu saja sudah jauh-jauh hari saya antisipasi kedatangannya: tugas akhir atau skripsi. Sebentar, izinkan saya menertawakan diri saya di masa lalu yang terheran-heran mendapati kakak tingkat yang hampir setiap saat mengeluhkan tugas akhir mereka. Menurut saya waktu itu: kerjakan tiap hari saja, toh akan selesai juga. Memang, adik tingkat tidak tahu diri. Tapi itulah yang saya pikirkan saat itu sebagai adik tingkat yang hampir setiap mata kuliahnya ada tugas penelitian dan artikel, ditambah PKL, yang terakhir itu akan panjang ceritanya. Oke, kembali k...

My (First) Love Story

Hai. Let me introduce "16 years old me". Anak rumahan yang baru masuk SMA. Bru pertama ngekost. Belum keluar dari masa-masa penuh duka karena jerawat. Belum pernah tau cinta-cintaan itu seperti apa. Honestly, sedikit tau lewat novel-novel yang kubaca. Mempunyai selera fashion nol besar! Gak pernah dandan. Satu-satunya yang bisa dibanggakan: aku menulis. Ok. Kenapa sih harus banget ditulis di sini? Segitu pentingnya ya? Nggak juga sih. Sebatas untuk pelajaran diriku aja, biar gak jatuh di lubang yang sama. Wqwq. But I'm not gonna focused on who is and story about it, tapi pelajaran yang dapat diambil dari kisah itu. Waktu itu, aku kira wajar bagi anak SMA mulai mengenal asmara: tidak terkecuali aku. So I'm in love with someone for the first time in my whole 16 years life. Aku nggak pernah berusaha untuk show up my feeling sama siapapun kecuali teman-teman terdekat aja. As a "writer wanna be" tentu momen-momen ini jadi ladang inspirasi dong. Nggak mau rugi ...

My Acne Story

Ini cerita tentang kejadian 3-4 tahun lalu. Aku menghadapi masalah yang cukup pelik saat itu: jerawat! Seserius itu? Iya! I know, mungkin sebagian dari kalian akan berpikir: kan cuma jerawatan aja, sebentar juga hilang, buat apa dibikin pusing? Ketika memasuki kelas 8, jerawat-jerawatku mulai muncul di dahi, pipi, hampir seluruh wajahku beruntusan dan wajahku hampir gak dikenali sama teman-teman lama. Awalnya aku merasa biasa aja, namanya juga pubertas. Sampai orang-orang di sekelilingku mulai blaming, mulai dari temen-temen sekolah, tetangga, adik, bapak, ibu, temen-temen ibu, bahkan guru sekolah! Ya, kamu ga salah baca. (: Segala macam bentuk diskriminasi karena fisik sudah pernah kualami. Mulai dari yang bernada perhatian : “Pipi kamu kenapa Far? Udah diobatin?” “Wah udah jerawatan, brarti tandanya udah gede nih.” Yang bernada menghakimi : “Mukakmu kenapa Far? Nggak perna dibersihin siyy, pantesan gitu…” “Pasti itu abis dipencet ya, t...

Review: Kepunan - Benny Arnas

Gambar
Judul        : Kepunan Penulis     : Benny Arnas Penerbit   : PT. Grasindo Tahun      : 2016 Tebal       : 279 halaman Menemukan kembali buku karya Benny Arnas setelah setahun lalu sempat terbaca olehku si hijau “Tanjung Luka”, kembali membuncahkan rasa penasaranku. Pun hausku akan bacaan-bacaan berbau historis yang belakangan tak pernah alpa menarik perhatian. Lain dengan “Tanjung Luka” yang menegangkan dan penuh drama, Benny Arnas berhasil menyuguhkan roman yang apik dengan latar belakang  perang kemerdekaan era 1920-an. Aih, bila saja waktu bacaku kala itu tak terbentur dengan serentetan agenda yang tidak mungkin kutinggalkan, yakinlah aku akan melahap “Kepunan” hanya dalam beberapa jam. Kepunan . Kali pertama mendengarnya, tak terbesit sekalipun untuk mencari-cari maknanya—seperti yang biasa kulakukan. Kubiarkan saja lembar-demi lembar yang kulalui menjawab rasa penasaran yan...

REVIEW Bumi Manusia-Pramoedya Ananta Toer

Gambar
Judul      : Bumi Manusia Penulis    : Pramoedya Ananta Toer Seri         : Tetralogi Pulau Buru Tahun     : 2005 Penerbit  : Lentera Dipantara Jumlah halaman: 532 halaman Awalnya saya urung memulai Tetralogi Pulau Buru, maka saya memulai dengan Gadis Pantai. Gadis Pantai menjadi  historical fiction kedua yang saya baca setelah Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yang tak kalah legendaris. Membaca novel sejarah bagi saya merupakan fase mendewasakan bacaan saya--tak melulu soal metropop atau romance. Novel-novel dan Roman karya Pramoedya yang sudah mashur rupanya menarik perhatian saya. Ditambah pula oleh ulasan-ulasan dan diangkatnya Bumi Manusia dalam teater "Bunga Penutup Abad". Roman "Bumi Manusia" berlatar Hindia di masa kolonialisme Belanda. Minke, seorang siswa H.B.S., merupakan pribumi terpelajar--suatu yang langka pada masanya. Kisah ini dibuka dengan pertemuan Minke dengan Indo cantik yang le...

"Tentang Kamu": Kesederhanaan Hati

Gambar
Tentang Kamu by Tere Liye Membaca buku-buku karya Tere Liye, terlepas dari segala pro dan kontra-nya, adalah sebuah langkah pendewasaan bacaan bagi saya. Tere Liye yang memang menyasar pasar remaja dan pemula sukses menyajikan setiap karyanya dengan apik. Pun dengan "Tentang Kamu", Kisah Zulkarnaen menelusuri seluk beluk kehidupan Sri Ningsih menjadi perjalanan panjang yang membuat saya sulit meletakkan buku ini. Sri Ningsih dengan karakter "malaikat" dan jauh dari kehidupan borjuis meski hartanya melimpah membuat saya bertanya-tanya: masih adakah manusia-manusia macam itu hari ini? Secara keseluruhan, alur novel ini cenderung mudah ditebak. Namun, sebagai bacaan ringan novel ini sangat menghibur dan sarat akan makna kehidupan. View all my reviews

Pengalaman Berburu PTN dan PTK: USM STIS 2016 Tahap 2 (PSIKOTEST)

Gambar
Holla! Akhirnya bisa ngeblog lagi di tengah sibuknya jadwal kuliah. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman tes masuk Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) 2016 yang saya lalui berbulan kemarin. Actually, saya nulis ini karena dulu waktu mau USM saya juga nyari-nyari info ini tapi nihil. Setelah lulus USM STIS Tahap 1 (Matematika dan Bahasa Inggris),tahap selanjutnya adalah PSIKOTEST.  Tes Psikotest STIS itu menurut saya adalah tahap yang paling horror. Menakutkan dalam artian, semuanya itu serba kejutan. Kita gatau model test apa aja yang akan diberikan. Lebih lagi, kita juga gatau sistem penilaiannya gimana dan yang kepribadiannya seperti apa yang diterima. Tapi, sebenarnya psikotest bisa dipelajari dan penuh dengan intrik. Bisa lah ya, lihat-lihat buku di gramed atau ngerjain contoh-contoh soal di internet. Gimana sih model soal psikotest STIS 2016? Ini nih  yang dicari-cari. Btw, soal-soalnya semua dikumpulkan, jadi gabisa download di internet ya. Kira-kira seperti...

Pengalaman Berburu PTN dan PTK: USM STIS 2016

Holla! Baru sempat ngeblog lagi setelah sebulan kemarin sibuk banget dengan acara kampus tercinta. Kali ini saya pengen berbagi pengalaman tentang gimana sih Ujian Saringan Masuk (USM) STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) itu. STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) adalah perguruan tinggi kedinasan di bawah Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia. STIS adalah salah satu PTK yang diminati banget sama siswa-siswi SMA karena untuk prodi D4 memang hanya dibuka untuk lulusan SMA. STIS membuka prodi D3 dan D4 untuk tahun 2016 ini. Nah, untuk Prodi D4 pada tingkat 2 nantinya akan dijuruskan ke : -D4 Statistika à Statistika Ekonomi – Statistika Kependudukan -D4 Komputasi Statistik Setiap tahunnya STIS menerima kurang lebih 500 orang mahasiswa-mahasiswi terbaik (tergantung pada kebutuhan BPS juga). Untuk tahun ini, jumlah seluruh angkatan 58 adalah 526 orang yang terdiri atas prodi D-IV Ikatan Dinas, DIV Tugas Belajar, dan Prodi D-III. Kenapa harus masuk STIS? ...

Pengalaman Berburu PTN dan PTK: USM PKN STAN 2016 (Part 3)

Holla! Bertemu lagi masih di segmen yang sama yaitu berburu kuliahan. Jangan bosen-bosen ya xD Nah, sekarang next step: USM PKN STAN 2016. Bagi yang belum tahu PKN STAN itu Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Itu lho Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) yang diincar ratusan ribu anak Indonesia. Tahun 2016 sendiri jumlah pendaftarnya mencapai lebih dari 100.000 (orang semua loh-_-). USM STAN dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2016. Serius loh. Waktu itu, pengumuman SNMPTN tanggal 9 Mei 2016. Jadii, setelah UN selesai ato pertengahan April-Mei saya langsung tancap gas untuk melanjutkan belajar USM STAN dan STIS yang sempat tertunda oleh UN. Kok bisa milih 2 PTK? Akan dijelaskan pada part selanjutnya. Saat itu, saya menyiasati waktu yang sangat singkat dengan mengefisienkan materi yang akan saya pelajari. Seperti yang kita tahu, materi SBMPTN terdiri atas TKPA dan TKD ( dalam hal ini saya memilih SAINTEK). Mata uji USM STAN adalah TPA dan BAHASA INGGRIS....

Pengalaman Berburu PTN dan PTK (Part 2: SBMPTN)

Gambar
Holla! Sekarang mari kita lanjutkan ke part ke dua: SBMPTN. Perjuangan dimulai kembali! Setelah pengumuman SNMPTN tanggal 9 Mei 2016—saya dinyatakan tidak diterima.  (Read: Part 1 ) Saya mengalami hari-hari yang membuat saya down dan kehilangan semangat belajar. Kecewa, namun tidak berlarut-larut karena saya sudah memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Hal yang pertama kali saya fikirkan setelah membuka pengumuman adalah tentu: daftar SBMPTN. SBMPTN tahun ini dilaksanakan tanggal 31 Mei 2016 (wtf, waktu itu sudah tanggal 9) -_- artinya tinggal 22 hari alias 3 minggu! Bisa gak ya belajar the whole materi SBM dalam waktu sesingkat itu sementara buat belajar UN aja memakan waktu hampir 6 bulan? Tapi Alhamdulillah, saya sadar dan bersyukur sekali waktu awal masuk kelas 12 saya buka-buka web zenius dan baca hampir semua artikel tips belajar UN dan SBMPTN. Singkatnya isinya begini, cara belajar yang lebih baik untuk anak kelas 12 adalah BELAJAR SBMPTN dari ...

Pengalaman Berburu PTN dan PTK (Part 1: SNMPTN)

Holla! Long time no post :’) Akhirnya punya waktu untuk blogging-blogging ceria lagi. Yup. Kali ini aku berbagi pengalaman nyari kuliah yang baruu aja kuselesaikan kemarin dengan penuh perjuangan. Let’s start. Waktu itu awal bulan Februari 2016, teman-teman kelas XII lagi sibuk-sibuknya (lebih banyak galaunya) ngurusin SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Bagi yang belum tahu, SNMPTN itu seleksi masuk yang pakai nilai rapor kalian mulai dari semester 1-5. Rumornya sih, yang diprioritaskan adalah nilai mapel UN. Memang benar, SNMPTN mempertimbangkan peran alumni dan kualitas lulusan SMA asal. Namun menurut pengalamanku, itu bukan harga mutlak. Banyak ko kakak-kakak dan teman-temanku yang masuk jurusan yang gaada ‘pendahulunya’. Tapi, rumor tetaplah rumor. Sistem penilaian SNMPTN tetap misterius. (Bagi yang pengen tahu sistem dan persyaratan bisa cek: www.snmptn.ac.id ) Lalu pilihanku jatuh pada 1. Pendidikan Dokter-FK UNDIP, 2. Ilmu Gizi-FK UND...

Pada Akhirnya

Pada akhirnya apa yang sudah dimulai harus kita akhiri. Tak ada yang abadi, pertemanan dan persahabatan akan diakhiri oleh waktu yang begitu bersemangat membayangi setiap langkah kita. Pada hari ini, kita harus mengakhiri masa ulat kita, lantas berjalanlah kita menuju fase baru: kepompong. "Merantaulah, maka kau akan mendapatkan pengganti kawan." Tak akan lama lagi, semua akan berakhir dengan indah. Semoga. Semoga fase ini menjadi masa yang indah untuk kelak kita kenang. Meski sendiri masih menjadi pilihan terbaik. Semoga kelak akan ada kawan yang datang, tak sekadar membayangi namun mengiringi langkah ini. Pada akhirnya waktu melangkah lebih cepat Bayang-bayang mulai terinjak, Hari sudah mulai siang, Kawan. Fajar kita tengah ditelan bulan.

Puisi (12): Kursor Yang Mendua

Kursor Yang Mendua Kursor itu berkedip-kedip saja di antara kata Tak benar-benar diam, melainkan mencoba melukis asa Memetakan huruf-huruf sesuai dengan maunya Lalu sang empu mengutuknya, Lantas salah siapa? Andai kursor punya mulut Andai kursor punya kepal pasti sudah mendaratlah ia pada wajah sang empu Lantas memakilah ia Namun kata mereka tak elok berandai-andai Kursor itu memang membisu namun menggelitik telinga “Tik tik tik” sang empu agaknya mulai alergi dibuatnya Berkali-kali ia mundur beberapa kertas kemudian maju dan lantas mundur lagi Bercucuran sudah keringat dibuatnya Kursor malang Ia terjebak di antara pikiran sang empu yang mendua Agaknya ia benar-benar ingin berlari ke kanan atas namun tak kuasa Lantas ia memutuskan untuk mendua 8 Aug 2014

Puisi (11): Embun dan Korek Api

Embun dan Korek Api (Farakh Khoirotun Nasida) Aku hidup sebagai setetes embun Sebulir saja di tepian daun Merefleksi mentari, mengekalkan pagi Mencipta lukisan bergradasi bernama pagi Hanya sementara saja Detik berikutnya aku akan dibawa pergi oleh udara Menemui sebuah akhir dari wujudku yang memang fana Hanyut dan menemukan sendiri arahku bermuara Aku hidup sebagai sebatang korek api Menyatu bersama nyala yang hanya akan padam bila aku mati Atau terus diam di tempat yang berarti tak pernah hidup sama sekali Maka aku memilih untuk pernah hidup bersama api Hanya sementara saja Biar saja aku hancur bersamanya Biar saja asal hidupku tak sia-sia Biarkan saja

Puisi (10): Refleksi Diri

Refleksi Diri (Farakh Khoirotun Nasida) Aku adalah helai daun yang mencintai tanah Melayang tanpa tahu arah Tertiup oleh angin gelisah Lantas dihempaskan oleh amarah Di sebuah pantai aku adalah dermaga Terpaku pada diam, terjaga Terkurung dalam ruang hampa bernama duka Menanti cinta yang entah kapan akan tiba Pada sebuah cerita aku adalah permulaan Cerita yang membawaku pada dekapan penantian Menciptakan duka, juga membutakan Lalu siapa yang patut dipersalahkan? Ini semua benar adanya Tentang kami, para remaja Mengembara dalam cinta Melupakan Sang Pencipta